Selanjutnya kita melihat muqaddimah yang kedua tentang qawa'idusy syara' (Kaidah-kaidah agama).
KAIDAH PERTAMA :
Firman Allah Jalla wa 'Ala dalam surat Al Maaidah ayat 3 :
Yang artinya : " Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu ni'mat-Ku dan telah Kuridlai Islam itu menjadi agama bagimu. (Al Maaidah :3.)
Ayat yang mulia ini menjelaskan kepada kita sebagai mukmin, bahwa Dinullah (Agama Allah), syari'at yang Allah turunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam telah kamil (sempurna) dan tidak perlu ditambah dan dikurangi lagi. Siapa saja yang memberikan satu ziyadah (tambahan) yang tidak ada asal usulnyadari syari'at ini, maka tidak dapat tidak, baik secara sengaja atau tidak sengaja, secara langsung atau tidak secara langsung, dia telah membantah ayat yang mulia ini.
Ayat ini pun menjelaskan kepada kita bahwa tidak ada satupun masalah yang bersangkutan dengan agama ini yang tidak dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada satupun yang disembunyikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga beliau bersabda :
Yang artinya : " Tidak ada sesuatupun yang mendekatkan (kamu) ke surga dan menjauhkan (kamu) dari neraka melainkan sesungguhnya telah dijelaskan.
Bacalah hadits-haditsnya dalam salah satu tulisan saya dengan judul Kesempurnaan Islam atau disalah satu kaset saya telah beredar tentang Kesempurnaan Islam.
Dengan demikian tidak boleh memberikan ziyadah (tambahan) kedalam agama ini. Imam Malik rahimahullah berkata :
Ynag artinya : " Barang siapa yang mengerjakan satu bid'ah yang dia anggap bid'ah itu baik, sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam mengkhianati risalah.
Karena Allah telah berfirman :
Yang artinya : " Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu... (Al Maaidah :3)
Maka apa-apa yang tidak menjadi agama pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi agama pada hari ini.
Perkataan ini menjadi kaidah yang sangat besar sekali yang wajib dipahami oleh setiap muslim, bahwa agama ini telah sempurna, tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi. Dan segala sesuatunya telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sehingga dengan kaidah ini, para pembaca dapat menyimpulkan sendiri apabila telah membaca buku Dialog dengan Jin Muslim ini dan merujuk kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, kemudian menemukan hal-hal yang tidak ada keterangannya dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, maka semua itu hanyalah ziyadah (tambahan-tambahan) yang tidak di ridlai oleh allah dan Rasul-Nya.
KAIDAH KEDUA :
Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
Yang artinya : "Barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada ketentuannya dari kami (dasar dari Al Kitab dan As Sunnah), maka tertolak.
Maksudnya bahwa seseorang tidak boleh mengerjakan sesuatu amal kecuali ada keterangannya dari kami, yaitu Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Kata "amal" diatas disebutkan dengan bentuk naqirah (umum), berarti amal apa saja, baik itu yang berbentuk keyakinan,'aqidah, amaliah, suluk dan sebagainya. Hadits ini merupakan kaidah yang sangat besar, sehingga para imam kita, diantaranya Imam Nawawi menganjurkan kaum muslimin untuk menghafal hadits ini untuk membatalkan segala macam bentuk bid'ah dari kaum mubtadi' (ahli bid'ah).
KAIDAH KETIGA :
Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang biasa beliau bacakan dalam khutbaul hajjah :
Yang artinya :" Maka sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan seburuk-buruk perkara adalah perkara agama yang baru dan setiap yang baru itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka.
Hadits yang mulia ini memberikan beberapa qawa'idul ilmiah (kaidah-kaidah ilmiah) kepada kaum muslimin :
Pertama, sebaik-baik perkataan adalah kitabullah (Al Qur'an). akan tetapi tidak cukup sampai disitu, kemudian dilanjutkan dengan yang kedua :
Kedua, sebaik-baik petunjuk, adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Maksudnya adalah bahwa Al Qur'an ditafsirkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Al Qur'an dijelaskan oleh Sunnah beliau. Sehingga seseorang tidak akan bisa memahami Al Qur'an tanpa petunjuk dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Kemudian, petunjuk beliau ini (AS Sunnah) tidak bisa dipahami dan dilaksanakan, kecuali dengan perantara para Shahabat beliau ridlwanullahu 'alaihim jami'an. Tanpa penjelasan para Shahabat, pasti kita akan tersesat dan menyesatkan. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda :
Yang artinya : "Berpegang teguhlah di atas sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin al mahyidin, pegang dan gigit dengan gigi gerahammu.
Maknanya adalah beliau shallallahu 'alahi wa sallam menjelaskan dan menyampaikan al Qur'an kepada umatnya. Dan penyambung lidah beliau adalah sunnahnya para khulafaur rasyidin al mahyidin (yaitu Abu bakar, Umar, Utsman dan Ali). Dalam hadits di atas beliau shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mencukupkan hanya dengan mengatakan, "Fa'alaikum bi sunnati (hendaklah kamu berpegang teguh dengan sunnahku)," saja, akan tetapi beliau lanjutkan dengan sunnah para khulafaur rasyidin al mahyidin.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam-lah yang menjelaskan Al Qur'an ini dan inilah yang dinamakan sunnah beliau shallallahu 'alaihiu wa sallam. Oleh sebab itu diwajibkan bagi setiap muslim untuk berpegang teguh dengan sunnah beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.
Darimana kita mengetahui sunnah beliau? Tentu dari para khulafaur rasyidin al mahyidin, kemudian disambung oleh para Shahabat yang lainnya. Karena merekalah yang akan menjelaskannya. Mereka berempat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali) mewakili sekalian para Shahabat. Dan dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
Yang artinya : "apa-apa yang aku dan para Shahabatku berada di atasnya.34
34 Ini merupakan penggalan dari hadits Iftiraaqul Ummah dari jalan Abdullah bin Amru bin Al'Ash dengan lafazh sebagai berikut :
Yang artinya : Dari Abudllah bin 'Amru, ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa wasallam bersabda, "Sungguh akan terjadi pada umatku, apa yang telah terjadi pada umat bani Israil sedikit demi sedikit, sehingga jika ada di antara mereka (bani Israil) yang menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, maka niscaya akan ada pada umatku yang mengerjakan itu. Dan sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh dua millah, semuanya di neraka, kecuali satu millah saja dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga millah, yang semuanya di neraka kecuali satu millah,"(para Shahabat) bertanya, "siapa mereka wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Apa yang aku dan para Shahabatku berada di atasnya." ( Di riwayatkan oleh Abu Dawud No. 4596 dan ini Lafazh-nya. Tirmidzi no. 2640, Ibnu Majah no. 3991, Ahmad (II/332), Ibnu Hibban no. 1834 -Al Mawaarid )
Hadits ini saling menafsirkan antara satu dengan yang lainnya (yufassiru ba'duhu ba'dlan). Dan dalam hadits yang lain, dengan lafazh :
Al jama'ah.35
35 Ini juga merupakan penggalan dari hadits Iftiraaqu Ummah yang diriwayatkan oleh 'Auf bin Malik dan Mu'awiyah dengan lafazh sebagai berikut :
Yang artinya : Dari 'Auf bin Malik, ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Dan Yahudi berpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu masuk surga dan yang tujuh puluh di neraka. Dan Nasrani berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, yang tujuh puluh satu golongan di neraka dan yang satu di surga. Dan demi Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, umatku benar-benar akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan , yang satu di surga, dan yang tujuh puluh dua golongan di neraka," ditanyakan kepada beliau, "Siapakah mereka wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Al Jama'ah." ( Ibnu Majah )
Para Ulama menafsirkannya dengan "para Shahabat".
Ketiga : Dan sejelek-jelek urusan adalah yang diada-adakan, atau yang tidak ada petunjuknya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai pembawa risalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits :
Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab berpecah menjadi tujuh puluh dua millah (golongan) dan sesungguhnya millah (agama) ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga millah, yang tujuh puluh dua (golongan) di neraka dan yang satu di surga, yaitu : Al Jama'ah. (Abu Dawud No. 4597)
Adapun hadits yang menyelisihinya yaitu hadits yang berbunyi :
"Umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya di surga, kecuali kaum zindiq."
Maka sesungguhnya hadits ini Maudlu' (palsu), sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnul Jauziy dalam kitab Al Maudlu'at (I/267)
Dan seburuk - buruk perkara adalah perkara agama yang baru dan setiap yang baru itu adalah bid'ah da setiap bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka.
Sabda beliau ini, memperingatkan kepada kita akan suatu urusan yang sangat besar, yakni perkara yang muhdats. Muhdats itu adalah perkara yang baru yang diada-adakan oleh manusia dan itulah yang disebut dengan bid'ah. Jadi bid'ah adalah sesuatu yang baru, yang tidak ada contohnya sebelumnya. Begitulah definisi bid'ah secara lughah (bahasa)
Adapun menurut istilah, adalah suatu perbuatan atau perkataan atau amalan, baik merupakan keyakinan atau perbuatan atau amalan, baik merupakan keyakinan atau perbuatan atau cara-cara tertentu yang disandarkan kepada agama, padahal tidak ada keterangan atau contoh dari agama, yang dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Jalla wa'Ala, inilah definisi bid'ah.
Dari sinilah, maka seorang muslim diwajibkan beramal dengan mendasarkan kepada Kitabullah (Al_Qur'an) dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan cara mengikuti jejak para Shahabat beliau ridlwanullahu 'alaihim ajma'in. Apabila tidak demikian, maka amalan tersebut tidak akan diterima atau batal.
KAIDAH KEEMPAT :
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman dalam Al Qur'an :
Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendaspat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisaa : 59)
No comments:
Post a Comment