Bismillaahi rohmaanirrohiim
Pada muqaddimah pertama ini, akan saya terangkan dengan ringkas tentang alam jin.
Keyakinan kita, ahlus sunnah wal jama'ah menurut pemahaman salafush shalih, adalah meyakini akan adanya alam jin. Kehidupan dan alam jin ini adalah salah satu akidah kita yang menyalahi keyakinan kaum filsafat yang mengingkari wujud dan keberadaan akan alam jin ini. sehingga mereka menafsirkan bahwa yang di maksud dengan alam jin, setan dan malaikat itu bukan sesuatu yang berwujud dan berbentuk makhluk, akan tetapi itu semua hanyalah sebuah lambang dari kebaikan dan keburukan. Tentu saja akidah kaum filsafat itu sangat rusak dan batil, sesat dan menyesatkan. Bahkan dapat membawa kepada kekufuran, karena Al Qur'anul Karim dan Sunnah Rasululloh Shallallohu 'alaihi wa sallam telah berbicara tentang alam jin demikian banyaknya. Bahkan di dalam Al Qur'anul Karim ada satu surat yang bernama surat Al Jin.
Dengan demikian, kita wajib meyakini akan adanya alam jin tersebut. Hal ini saya jelaskan agar tidak ada salah faham bagi sebagian orang atas koreksian saya nanti. Yang mengakibatkan saya dituduh mengingkari alam jin dan lain sebagainya.
Terdapat rincian yang demikian banyak tentang alam jin dalam Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang sebagiannya adalah apa yang akan saya jelaskan dibawah ini :
PERTAMA :
Jin dikenakan taklif (kewajiban) seperti halnya manusia. Allah berfirman dalam surat Adz Dzaariyaat ayat 56:
Yang artinya :"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (Adz Dzaariyaat ayat 56)
Dari ayat yang mulia ini, dapat kita ketahui bahwa jin dikenakan taklif seperti kita manusia.
KEDUA :
Jin ada yang mukmin dan ada juga yang kafir. Allah berfirman dalam surat Al Jin ayat 11 :
Yang artinya : "Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shalih dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda."(Al Jin: 11)
Dari ayat yang mulia ini diketahui bahwa jin hidup sama seperti manusia, mereka ada yang mukmin dan ada yang kafir. Kekafirannya pun bermacam-macam sebagaimana kekafiran manusia. Demikian juga yang mukmin, bermacam-macam pula sebagaimana keimanannya manusia.
Ada yang mukmin pengikut tariqah ahlus sunnah wal jama'ah menurut pemahaman salafus shalih, ada yang mukmin pengikut kaum mu'tazilah dan ada yang mukmin pengikut ahlul bid'ah lainnya. Semua itu seperti apa yang dikatakan dan diisyaratkan oleh para imam kaum muslimin, "Bahwa jin itu ada yang ahlus sunnah dan ada yang ahlul bid'ah. Yang ahlul bid'ah bermacam-macam, salah satunya ada yang sufi.
Dari perkataan diatas, apabila kita bertemu dengan jin yang mengaku muslim, maka masih harus dipertanyakan, muslim yang mana? Ahlus sunnah atau ahlul bid'ah? Kalau ahlul bid'ah, maka ahlul bid'ah tariqah yang mana? sulit bagi kita untuk mengetahuinya.
Oleh karena itu para Shahabat Nabi ridwanullah 'alaihim ajma'in, tidak ada yang dengan sengaja ingin memanggil jin atau berhubungan dengan jin atau berteman dengan jin. Saya tidak mendapatinya didalam sunnah ada seorang Shahabat yang melakukan hal itu dengan sengaja. Maksud saya adalah usaha mereka untuk berhubungan dengan jin dengan sengaja, kecuali kebetulan atau tiba-tiba mereka didatangi dengan izin Allah Subhanahu wa ta'ala, bukan dengan kemauan para Shahabat sendiri. karena kita tidak diperintahkan untuk mengurusi kehidupan jin. Mengurusi kehidupan manusia saja sudah sulit, apalagi kehidupan jin yang kita tidak tahu dimana rumah atau tempat tinggalnya dan lain sebagainya secara pasti, kecuali apa yang telah diterangkan dalam Al Qur'an dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Oleh sebab itu, para Shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak ada yang dengan sengaja untuk berhubungan dengan jin, kecuali sebagian mereka ada yang didatangi, tanpa ada rencana sedikitpun juga. Demikian juga para ulama kita. Kalau secara kebetulan sebagian dari mereka ada yang bertemu dengan jin, maka mereka mengajak jin itu kepada kebaikan. Dan tipu daya jin demikian banyaknya, sama dengan tipu daya manusia.
Intinya, bahwa jin ada yang mukmin dan ada yang kafir, sebagaimana yang mereka katakan sendiri dalam firman Allah di atas.
KETIGA :
Jin itu diciptakan lebih dahulu daripada manusia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta'ala dalam surat Al Hijr ayat 26-27 :
Yang artinya :"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (Al Hijr:26-27)
Dari ayat di atas kita ketahui bahwa jin diciptakan lebih dahulu daripada manusia.
KEEMPAT :
Jin adalah satu bangsa yang besar dan terbagi-bagi, sehingga Iblis termasuk salah satu bangsa jin. allah 'azza wa jalla berfirman dalam surat Al kahfi ayat 50:
Yang artinya :"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan keturunan-keturunannyasebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zhalim." (Al Kahfi:50)
Berdasarkan ayat yang mulia ini, kita ketahui bahwa jin mempunyai bangsa yang sedemikian besar dan mereka terbagi-bagi. Dan Iblis adalah salah satu bagian dari bangsa jin. Dan jin yang mengikuti Iblis itulah yang kafir.
KELIMA :
Mana yang lebih mulia antara manusia dan jin? Saya tidak ragu lagi untuk mengatakan bahwa manusia lebih mulia daripada jin. Bahkan sebagian ulama kita mengatakan bahwa manusia lebih mulia dari malaikat, walaupun hal ini masih diperselisihkan. Akan tetapi tentang jin saya belum pernah menemukan perselisihan di antara para ulama bahwa manusia itu lebih mulia kedudukannya daripada jin.
Adapun ketaqwaannya, maka berlakulah keumuman firman Allah dalam surat Al Hujuraat ayat 13:
Yang artinya :"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujuraat:13.)
Manusia yang durhaka dengan jin yang takwa, lebih mulia jin. apabila ditinjau dari jenisnya, maka tidak diragukan lagi bahwa manusia itu lebih mulia daripada jin, dalilnya adalah firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 34:
Yang artinya: "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat. "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir." (Al Baqarah:34.)
Oleh karena itu apabila ada manusia yang memohon pertolongan kepada jin, maka ia membuat jin semakin sombong, takabur dan besar kepala. Allah berfirman dalam surat Al Jin ayat 6:
Yang artinya: "Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al Jin:6.)
Ayat ini juga menunjukkan bahwa jin itu ada yang laki-laki dan ada yang perempuan, sama seperti manusia, sebagaimana yang akan saya terangkan, Insya Allahu Ta'ala.
Ayat ini juga menceritakan perbutan orang-orang jahiliyah, yakni apabila mereka hendak melewati suatu lembah, mereka memohon kepada penunggu lembah tersebut (yaitu jin) supaya mereka dapat terhindar dari marabahaya. Perbuatan ini persis seperti yang dilakukan sebagian kaum kita. Ketika sebagian kaum kita hendak membangun jembatan, maka disediakanlah kepala kerbau untuk memohon perlindungan dari marabahaya kepada penunggu jembatan tersebut dan yang seperti ini banyak sekali. Jika mereka hendak buang air kecil di pohon-pohon yang di anggap keramat dan ada penunggunya dari kalangan jin, mereka harus mengucapkan "numpang-numpang" sebanyak tiga kali, begitulah yang terjadi pada kaum kita.
Perbuatan-perbuatan seperti itulah yang membuat jin semakin besar kepala dan bangga. Mengapa manusia yang lebih mulia meminta kepada yang lebih rendah darinya? Padahal telah kita ketahui di atas bahwa manusia lebih mulia daripada jin dan apabila seseorang memohon pertolongan kepada yang lainnya, berarti dia telah merendahkan diri kepada orang yang dimohonnya itu.
Ayat yang mulia ini memberikan pelajaran yang sangat tinggi sekali kepada kita, agar kita tidak sekali-kali meminta perlindungan kepada jin.
KEENAM :
Jin, termasuk Iblis beserta kaumnya tidak bisa dilihat oleh mata kepala kita, manusia tidak bisa melihat jin. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia :
Yang artinya : "Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al A'raaf:27.)
Ini pernah terjadi padas mas Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ingat tatkala Abu hurairah didatangi oleh setan, dan kisah tersebut telah saya terangkan dalam salah satu tulisan saya.(Al Masaa-il jilid 1 hal. 269-282)
"Dari abu Hurairah radiallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mewakilkan kepadaku untuk menjaga (harta) zakat ramadlan, kemudian datanglah seseorang. Dia mengambil sebagian makanan, maka aku menangkapnya dan aku katakan (kepadanya), "Demi Allah, aku benar-benar akan menyampaikan perkaramu ini kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. "Dia menjawab, "Sungguh aku sedang butuh. Aku punya keluarga dan keperluan yang sangat mendesak. " Abu Hurairah berkata, "Lalu aku melepaskannya. "Kemudian sewaktu pagi, Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Hai Abu Hurairah, apa yang dikerjakan tawananmu semalam?" jawabnya, "Wahai Rasulullah, dia mengadukan keperluannya yang sangat mendesak dengan keluarganya, Karena itu aku kasihan kepadanya, "Sesungguhnya dia telah membohongimu dan ia akan kembali," dan aku tahu dengan pasti bahwa dia akan kembali berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu aku pun menunggunya. Kemudian dia datang lagi menuang sebagian makanan, maka aku menangkapnya dan aku katakan (kepadanya), "Sungguh akan kusampaikan perkaramu ini kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. "Dia menjawab, "Lepaskanlah aku, karena aku sedang butuh dan punya keluarga. aku tidak akan kembali lagi."Lalu aku kasihan kepadanya, lantas aku lepaskan dia. Kemudian msewaktu pagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, "Hai Abu Hurairah, apa yang dikerjakan tawananmu semalam?"Jawabku, "Ya Rasulullah, dia telah mengeluhkan keperluan yang sangat mendesak dengan keluarganya, Karena itu aku kasihan kepadanya, maka aku lepaskan dia. "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya dia telah membohongimu dan ia akan kembali lagi," maka aku pun menunggunya untuk yang ketiga kali. Kemudian dia datang lagi mengambil sebagian makanan, maka aku pun menangkapnya, lalu aku katakan (kepadanya), "Sungguh akan aku sampaikan perkaramu ini kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan ini merupakan yang terakhir setelah tiga kali kamu berjanji untuk tidak kembali, ternyata kamu kembali lagi!" Dia berkata, "mari aku ajarkan kepadamu kalimat-kalimat yang karenanya allah memberi manfaat kepadamu."Aku bertanya,"Kalimat apakah itu?" Jawabnya, "Bila kamu hendak beranjak ke tempat tidurmu, bacalah ayat kursi (Allahu la ilaha illa huwal hayyu qayyum) sampai engkau menamatkan ayat ini. Maka dengan demikian engkau akan punya penjaga dari Allah dan tidak akan didekati setan hingga pagi,"karena itu aku lepaskan dia, Kemudian sewaktu pagi, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepadaku, "Apa yang dikerjakan tawananmu semalam?" Aku jawab, "Ya Rasulullah, dia mengaku mengajarkan kepadaku kalimat-kalimat yang karenanya Allah akan memberi manfaat kepadaku. Karena itu aku lepaskan dia. "nabi shallalahu 'alaihi wa sallam bertanya, "Apa kalimat itu?" Aku jawab, "Dia berkata kepadaku: Bila kamu hendak beranjak ketempat tidurmu, maka bacalah ayat kursi dari pertama hingga tamat (Allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum...). Selanjutnya dia berkata: Dengan demikian engkau akan punya penjaga dari Allah dan engkau tidak akan didekati setan hingga pagi."maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda, "Ada pun dia telah berkata benar (pada kali ini), padahal dia pembohong! Tahukan engkau siapa yang berbicara denganmu selama tiga malam itu?" Jawabnya, "Tidak tahu. "Beliau bersabda, "Itulah setan."
Dari hadits ini kita mengetahui bahwasanya sifat setan itu adalah pembohong, walaupun terkadang dia benar, maka kita harus berhati-hati ketika berdialog dengan mereka. Wallahu A'lam.
Bahkan sebagian ulama kita mengatakan,"Dahulu salah satu golongan yang membuat hadits palsu itu adalah setan-setan yang menyamar menjadi manusia.
Kita tidak bisa melihat rupa jin yang aslinya, kecuali apabila mereka datang kepada kita dengan rupa yang lainnya. Oleh karena itu banyak penyamaran jin dan setan yang merupakan bentuk talbis (penipuan mereka) terhadap manusia, untuk mengganggu manusia.
Mereka datangi manusia dengan berbagai macam rupa, ada yang datang dengan rupa perempuan, apa yang kita namakan disini dengan"kuntilanak", "gondoruwo" atau nama-nama yang lainnya, sangat bermacam-macam dan banyak sekali. Demikian juga yang laki-laki ada yang datang dengan rupa "hantu" dan yang paling kecil disebut "tuyul" dan nama-nama yang lainnya yang dibuat sendiri oleh manusia. Itulah tipu daya Iblis dan balatentaranya untuk menipu manusia.
Tersebarlah fitnah dipermukaan bumi ini. Akibatnya manusia semakin membesarkan dan mengagungkan Iblis dengan penuh rasa takut. Sehingga bangun bulu kuduk apabila disebut atau terdengar nama mereka. Itulah tipu daya Iblis.
Mereka bisa menyamar dengan rupa apa saja. Adakalanya dia menyamar dengan menyerupai orang yang shalih dari ulama-ulama kita yang terdahulu. Maka datanglah mereka kepada orang-orang yang bodoh. Dia menyamar sebagai para wali yang terdahulu, datang memaki gamis dan sorban, sambil memegang tasbih-rupanya si jin lupa kalau tasbih itu bid'ah-. Dinasehatilah orang-orang yang tidak mengerti itu, "Wahai anakku, cucuku, aku ini wali fulan, sebarkan islam, perintahkan manusia untuk berbuat bagini dan begitu, aku akan beritahukepadamu yang manusia tidak tahu.. "Seolah-olah Al_Qur'an belum pernah menerangkanya. Lalu orang yang didatangi tersebut akan menyebarkan hal itu kepada manusia yang lain, dari kalangan orang-orang bodoh dan tidak mengerti agama. Akibatnya apa? Timbulnya pemujaan terhadap kuburan para wali tersebut. Itulah salah satu akibatnya dan begitu seterusnya tipu daya Iblis itu.
KETUJUH :
Manusia itu dapat dirasuki oleh jin, dengan kata lain 'kesurupan".
Kesurupan itu betul ada, yakni seseorang yang tubuhnya dimasuki oleh jin, sehingga dia berbicara dengan bahasa dan suara yang lain, tingkah laku yang lain dan seterusnya. Itu adalah 'aqidah (keyakinan) ahlus sunnah wal jama'ah, yang menyalahi 'aqidah ahlul bida' wal iftiraq (ahli bid'ah dan perpecahan), yaitu kaum Mu'tazilah yang mengingkari bahwa manusia itu bisa dirasuki oleh jin.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, "Setan itu berjalan ke tubuh manusia mengikuti perjalanan darah." Dalil para ulama kita adalah firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 275:
Yang artinya : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah:275)
Saya berkata : Kata "al mass" dalam ayat di atas berarti sentuhan dan masukan. Dari sinilah kemudian ditafsirkan oleh para ulama kita bahwa setan atau jin dapat memasuki tubuh manusia dan mempengaruhinya melalui ucapan maupun tindakan.
Yang perlu kita ketahui, bahwa zaman sekarang banyak orang bertingkah laku seperti orang kesurupan tetapi sebenarnya tidak kesurupan. Karena apabila manusia mengalami kegoncangan dan beban yang berat, terkadang bisa berubah ucapan maupun perbuatannya menyerupai orang kesurupan. Adakalanya dia pura-pura kesurupan dan yang seperti ini banyak sekali. Ini sekedar komentar untuk menjelaskan bahwa tidak semua keanehan yang terjadi di antara kita disebut kesurupan.
KEDELAPAN :
Bahwa jin atau setan itu ada yang laki dan yang perempuan dan mereka sama dengan kita, kawin dan bercampur antara laki-laki dan perempuan. Dalilnya adalah ayat Al Qur'an dalam surat Al Jin ayat 6 :
Yang artinya : "Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al Jin:6)
Sebagaimana telah diisyaratkan sebelum ini dan juga hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau akan masuk jamban, beliau berdo'a :
yang artinya : "Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari jin yang laki-laki dan perempuan.
Hadits di atas menjeaskan apabila kita hendak masuk jamban, buang air kecil atau buang air besar, diisyaratkan untuk mengucapkan do'a tersebut, untuk memohon perlindungan kepada Allah dari setan laki-laki dan perempuan, dari jin laki-laki dan perempuan yang jahat itu. Yang menunjukkan bahwa jin itu atau setan ada yang laki-laki dan ada juga yang perempuan dan mereka pun bercampur (jimak). Hanya saja setan atau jin yang kufur itu bercampurnya di tengah-tengah jalan, yang terlihat oleh sesama mereka , tidak terlihat oleh kita. Salah satu hikmahnya adalah tersembunyinya perbuatan itu dari pandangan mata kita, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lain-lain dengan sanad yang dla'if dari jalan Abu Hurairah, akan tetapi hadits ini menjadi hasan, karena beberapa syawahid-nya.
KESEMBILAN :
Bangsa jin juga makan seperti kita, hanya saja makanannya tidak sama dengan kita dan adakalanya dia mencuri makanan kita sebagaimana setan mencuri makanan zakat dari Abu Hurairah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menjaganya. Dan sebagian Shabat yang lainnya yang diamanatkan sesuatu, akan tetapi kemudian berkurang dan berkurang terus, karena dicuri oleh jin, karena jin mempunyai sifat suka mencuri.
KESEPULUH :
Setan juga bermalam dan bertempat tinggal, adakalanya mereka tinggal di rumah-rumah kita. Tetapi kita tidask perlu merasa takut, sebab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, "apabila seseorang masuk ke rumahnya dengan menyebut nama Allah (bismillah)..
Ini adalah suatu pelajaran yang sangat tinggi, yaitu menyebut nama Allah ketika masuk rumah yang mengakibatkan setan atau jin yang kufur tidak bisa bermalam di rumah kita. Kalau kita tidak mengucapkan asma Allah tatkala masuk rumah, jin yang kufur atau setan akan bermalam dirumah kita. Demikian juga apabila seseorang makan atau minum tidak mengucapkan bismillah, maka setan ikut makan bersamanya.
Cukuplah beberpa keterangan tentang alam jin ini dan masih banyak lagi yang lainnya. Tentu akan berkepanjangan kalau saya terus-menerus menerangkannya. Ini hanyalah sekedar muqaddimah, dan selebihnya bacalah ayat-ayat Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berserta penjelasan para ulama kita tentang masalah alam jin ini.
No comments:
Post a Comment